KASUS TERKAIT XEROX
CORPORATION
1. Ringkasan
sistem pengendalian manajemen pada Xerox Corporation :
a.
Mekanis penerapan SPM dapat
digambarkan sebagai berikut :
Sistem Pengendalian Manajemen
memerlukan mekanisme penerapan sebagaimana gambar di atas :
1.
Struktur organisasi, menetapkan
peranan, hubungan pelaporan dan divisi yang bertanggung jawab atas pengambilan
keputusan. Pada Xerox secara struktur organisasi terdiri dari :
-
divisi bisnis (9 divisi)
bertanggung jawab atas keseluruhan manajemen wilayah-wilayah bisnis produk
Xerox di dunia, yaitu pengembangan manufaktur produk dan mengelola bisnis.
-
divisi operasi-operasi konsumen
(3 divisi), menyediakan penjualan, jasa dan pelayanan administrasi konsumen.
-
kelompok Corporate Strategy
Service, memberikan dukungan tertulis dalam kontrak kepada divisi-divisi
bisnis. Divisi bisnis Xerox masuk dalam kelompok ini jika pada fasilitas
pengembangan/manufaktur menghasilkan setidaknya 90% dari output untuk kelompok
bisnis tertentu.
-
Joint Venture dengan Rank dan
Fuji Film Jepang, yang masing-masing memiliki manufaktur dan divisi bisnis yang
terpisah dengan Xerox.
2.
Manajemen Sumber Daya Manusia.
Melakukan seleksi, pelatihan,
evaluasi, promoasi dan pemecatan karyawan serta mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan untuk melakukan strategi organisasi.
3.
Budaya merupakan seperangkat
keyakinan bersama, sikap dan norma-norma yang secara eksplisit maupun implicit
membimbing tindakan karyawan.
Pada Xerox LTQ ditetapkan sebagai budaya dalam perusahaan yang merupakan arahan bagi manajer maupun karyawan dalam bekerja.
Pada Xerox LTQ ditetapkan sebagai budaya dalam perusahaan yang merupakan arahan bagi manajer maupun karyawan dalam bekerja.
4.
Pengendalian manajemen
merupakan satu-satunya perangkat manajer yang digunakan dalam
mengimplementasikan strategi yang digunakan.
b.
Mulai tahun 1946 hingga 1973
pertumbuhan penjualan pertahun melebihi 25% sedang pertambahan pendapatannya
melebihi 35%, sebagaimana ulasan Keuangan Xerox. Walaupun Xerox memiliki tujuan
financial yang ditunjukan dengan kemajuan penjualan dan pendapatan, Xerox juga
mempunyai tujuan non financial yang kinerjanya dapat diukur, yaitu:
1. jumlah
penginstalan mesin per jenis mesin.
2. jumlah
konsumen per wilayah.
3. rata-rata
pengiriman tepat waktu.
4. tingkat
waktu respon untuk jasa.
5. tingkat
kepuasan konsumen.
6. motivasi
karyawan.
c. Untuk
memastikan pelaksanaan strategi yang telah dipilih setelah mendapatkan
persaingan yang hebat tahun 1980, manajemen perusahaan perlu mengendalkan
informasi (bisnis) terutama yang bersifat non potensial yang dapat dijadikan
dasar yang kuat bagi pertimbangan strategi baru atau untuk menigkatkan kinerja
perusahaan dalam persaingan. Dalam sejarah Xerox menggunakan strategi patok
duga sebagaimana yang telah dilakukan Jepang terhadap produk Xerox. Xerox
membeli mesin copy Jepang dan menganalisa melalui “rekayasa balik”. Xerox
memahami bagaimana melakukan peningkatan besar dalam keandalan dan biaya mesin
copy dari Jepang.
Pengendalian
manajemen merupakan proses dimana para manajer mempengaruhi anggota organisasi
lainnya untuk mengimplementasikan strategi organisasi. Dari gambaran Sistem
Pengendalian Manajemen Xerox tersebut terdapat unsur-unsur kunci atau aspek yang
membuat SPM Xerox bekerja dengan baik, yaitu:
1. Keselarasan
tujuan (goal congruen).
Kenyataan
akan kehilangan pangsa pasar yang signifikan mengharuskan Xerpx memformulasikan
kembali strategi dengan tujuan perusahaan agar merebut kembali pangsa pasar yang
telah hilang. Setiap anggota organisasi dalam Xerox secara pribadi memiliki
tujuan tersebut yang diwujudkan dalam setiap operasi bisnis Xerox. Dengan
begitu terdapat keselarasan antara tujuan pribadi dengan tujuan perusahaan.
2. Adanya
perangkat atau kerangka bagi penerapan strategi.
3. Adanya
ukuran kinerja financial dan non financial.
4. Bantuan
dalam pengembangan strategi baru untuk membantu strategi yang telah ditetapkan
sebelumnya.
2.
Kecenderungan terakhir yang
lebiih berpengaruh terhadap proses pengendalian manajemen.
Pada
tahun 1991 Xerox telah berhasil merebut kembali pangsa pasar yang hilang dengan
mengembangkan budaya melalui LTQ. Laporan tahunan telah menunjukkan sebagian
keberhasilan tersebut. Selain itu Xerox telah berhasil dengan SPM yang
dijalankan, ternyata kecenderungan terakhir yang berpengaruh terhadap
perusahaan pengendalian manajemen adalah:
a.
peranan atau partisipasi aktif
dalam manajemen, komunikasi terbuka dan adanya jalinan kerjasama antar bagian
pemasaran, teknologi dan keuangan.
b.
mengurangi proses manajemen
yang kurang praktis, terutama dalam pelaporan , tanpa mengurangi nilai
informasi. Operasi-operasi individu dilakukan dengan tetap menghasilkan data
yang dibutuhkan walaupun terdapat penurunan atas persyaratan dan intensitas
pelaporan perusahaan dan standarisasi terhadap format laporan. Dan hal ini
memberikan pengurangan yang signifikan terhadap jumlah orang yang tidak
terlibat langsung dalam proses manajeman.
c.
Dilakukan perbaikan terhadap
proses perencanaan dengan rincian yang dapat dijalankan oleh para
manajer/pengendali unit.
3. Budaya organisasi dan kepribadian
individual dalam proses pengendalian di Xerox Corporation terlihat pada
beberapa hal :
1. Leadership
Through Quality (LTQ) sebagai prinsip dasar strategi kualitas yang berorientasi
dengan konsumen yang menjadi panduan bagi organisasi maupun individual dalam
bekerja. LTQ ini telah berhasil diimplementasikan secara individu sehingga
secara keseluruhan dalm organisasi telah menjadi suatu budaya perusahaan. pada LTQ terdapat tiga komponen utama,
yaitu keterlibatan karyawan, tolok ukur kompetitif dan proses peningkatan
kualitas. Hal ini diimplementasikan dalam target-target yang akan diraih dan
selanjutnya dilakukan pengukuran keberhasilannya. Budaya organisasi dapat
benar-benar terwujud pada Xerox karena LTQ telah dapat dilaksanakan secara
konsisten oleh setiap individu.
2. Budaya
informal dalam sistem pelaporan yang dikembangkan dalam komunikasi yang jujur,
terbuka dan informatif. Hal ini melibatkan semua pengendali unit operasional,
sehingga benar-benar dapat diketahui masalah-masalah operasional dan keuangan.
Pelaporan informal ini memberikan pengaruh yang besar dalam budaya perusahaan
dan memberikan manfaat bagi Xerox secara keseluruhan, diantaranya :
a. timbulnya sikap saling percaya.
b. penambahan pengetahuan dan praktek-praktek
bisnis.
c. adanya koordinasi dan pemecahan masalah.
Dari kedua hal tersebut dapat di simpulkan bahwa semakin intensif karyawan terlibat dalam proses pengendalian manajemen, semakin membawa pengaruh baik dalam perusahaan selama kepribadian individual tertanam dengan budaya LTQ. Dengan demikian terlihat betapa pentingnya budaya organisasi dan kepribadian individual dalam proses pengendalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar